Melakukan Analisis Pembelajaran dan Identifikasi Perilaku Siswa

Melakukan Analisis Pembelajaran

Analisis pembelajaran adalah satu dari beberapa langkah yang harus direncanakan dan dipersiapkan secara matang sebelum kita mentransfer sebuah ilmu kepada siswa. Perlu direncanakan dan dipersiapkan secara matang, karena pada analisis pembelajaran ini terjadi proses menjabarkan perilaku umum menjadi perilaku khusus yang tersusun secara logis dan sistematik (Atwi Suparman, 2001 : 89). Kegiatan ini dimaksudkan agar tergambar susunan perilaku khusus dari yang paling awal sampai yang paling akhir. Baik jumlah maupun susunan perilaku tersebut akan memberikan keyakinan kepada pengajar bahwa perilaku yang tercantum dalam TIU dapat dicapai secara efektif dan efisien. Namun kenyataannya, tidak sedikit dari pengembang pembelajaran (termasuk pengajar) melewati tahapan ini. Kebanyakan dari mereka dari TIU langsung melompat ke penulisan TIK, tes, atau isi pelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran yang dihasilkan menjadi tidak sistematik.

Langkah-langkah Melakukan Analisis Pembelajaran

Berikut adalah langkah-langkah yang bisa digunakan dalam menganalisis

pembelajaran:

1.   Menuliskan perilaku umum yang telah anda tulis dalam TIU untuk mata pelajaran yang sedang anda kembangkan.

2.   Menulis setiap perilaku khusus yang menurut anda menjadi bagian dari perilaku umum tersebut. Jumlah perilaku khusus untuk setiap perilaku umum berkisar antara 5 – 10 buah. Bila sangat diperlukan, anda masih mungkin menambahnya lebih banyak.

3.   Menyusun perilaku khusus tersebut ke dalam suatu daftar urutan yang logis dimulai dari perilaku umum, perilaku khusus yang paling “dekat” hubungannya dengan perilaku umum diteruskan “mundur” sampai perilaku yang paling jauh dari perilaku umum.

4.   Menambah perilaku khusus tersebut atau mengurangi jika perlu. Tanamkan dalam pikiran anda bahwa anda harus berusaha melengkapi daftar perilaku khusus itu.

5.   Menulis setiap perilaku khusus tersebut dalam suatu lembar kartu atau kertas ukuran 3 x 5 cm.

6.   Menyusun kartu tersebut di atas meja atau lantai dengan menempatkannya dalam struktur hierarkikal, prosedural, atau pengelompokkan, menurut kedudukan masing-masing terhadap kartu yang lain. Letakkan kartu tersebut sejajar atau horizontal untuk perilaku-perilaku yang mempunyai struktur prosedural dan pengelompokkan serta letakkan secara vertikal untuk perilaku-perilaku yang hierarkikal. Dalam proses ini anda seolah-olah sedang bermain kartu dengan cara mencocokkan letak suatu kartu di antara kartu yang lain. Hal itu akan mengasyikkan, mungkin memakan waktu berjam-jam.

7.   Jika perlu, tambahkan dengan perilaku khusus lain yang dianggap perlu atau kurangi bila dianggap lebih. Sampai batas ini anda harus yakin betul bahwa tidak ada perilaku khusus yang masih ketinggalan atau kelebihan serta susunannya menurut struktur hierarkikal, prosedural, pengelompokan, atau kombinasi.

8.   Menggambar letak perilaku-perilaku tersebut dalam bentuk kotak-kotak di atas kertas lebar sesuai dengan letak kartu yang telah anda susun. Hubungkan kotak-kotak yang telah anda gambar tersebut dengan garis-garis vertikal dan horizontal untuk menyatakan hubungannya yang hierarkikal, prosedural, atau pengelompokkan.

9.  Meneliti kemungkinan menghubungkan perilaku umum yang satu dan yang lain atau perilaku-perilaku khusus yang berada di bawah perilaku umum yang berbeda.

10. Memberi nomor urut pada setiap perilaku khusus dimulai dari yang terjauh sampai ke yang terdekat dengan perilaku umum. Pemberian nomor urut ini akan menunjukkan urutan perilaku tersebut bila diajarkan kepada mahasiswa. Ada hal yang perlu diperhatikan dalam member nomor tersebut. Pertama, pemberian nomor urut perilaku-perilaku khusus yang terstruktur hierarkikal harus dilakukan dari bawah ke atas. Kedua, pemberian nomor urut perilaku-perilaku khusus yang terstruktur prosedural dapat berlainan dari urutan penampilan perilaku-perilaku khusus tersebut dalam pekerjaan. Urutan perilaku-perilaku khusus tersebut dilakukan dari yang lebih sederhana ke yang lebih kompleks atau sulit dan kemiripan atau kaitan gerakan yang satu dan yang lain. Ketiga, pemberian nomor urut perilaku-perilaku khusus yang terstruktur pengelompokkan dilakukan dengan cara yang sama dengan prosedural.

11. Mengkonsultasikan atau mendiskusikan bagan yang telah anda susun dengan teman sejawat untuk mendapatkan masukan. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam diskusi tersebut adalah:

  1. Lengkap tidaknya perilaku khusus sebagai penjabaran dari setiap perilaku umum
  2. Logis tidaknya urutan dari perilaku-perilaku khusus menuju perilaku umum
  3. Stuktur hubungan perilaku-perilaku khusus tersebut (hierarkikal, prosedural, pengelompokkan, atau kombinasi)

Setiap perilaku yang ditulis masih dapat diperinci lagi menjadi perilaku yang lebih kecil atau halus lagi tergantung kepada keinginan pengembang pembelajaran, sampai batas mana ia akan berhenti. Dalam praktik melakukan analisis pembelajaran bagi kebutuhan mata pelajaran anda, satu perilaku umum dapat diuraikan menjadi 5 sampai 10 perilaku khusus. Bila anda menghendakinya, setiap perilaku khusus itu masih mungkin dijabarkan lagi. Bila lebih cermat dan lebih rajin melakukan kegiatan analisis tersebut, anda akan lebih mudah melakukan langkah-langkah pengembangan instruksional selanjutnya. Pekerjaan menganalisis tersebut sangat menantang, tetapi tidak terlalu sulit sepanjang anda dapat menyediakan waktu itu. Pekerjaan tersebut banyak menuntut penggunaan logika. Disinilah salah satu letak penggunaan akal sehat dalam proses pengembangan instruksional.

 B.       Mengidentifikasi Perilaku dan Karakteristik Awal Siswa

Berikut ini disajikan perkembangan yang sangat erat kaitannya dengan pembelajaran, yaitu perkembangan aspek kognitif, psikomotor, dan afektif.

1.   Perkembangan Aspek Kognitif

Menurut Piaget (1970), periode yang dimulai pada usia 12 tahun, yaitu yang lebih kurang sama dengan usia siswa SMP, merupakan ‘period of formal operation’. Pada usia ini, yang berkembang pada siswa adalah kemampuan berfikir secara simbolis dan bisa memahami sesuatu secara bermakna (meaningfully) tanpa memerlukan objek yang konkrit atau bahkan objek yang visual. Siswa telah memahami hal-hal yang bersifat imajinatif.

Implikasinya dalam pengajaran Teknologi informasi dan komunikasi adalah bahwa belajar akan bermakna kalau input (materi pelajaran) sesuai dengan minat dan bakat siswa. Pengajaran Teknologi informasi dan komunikasi akan berhasil kalau penyusun silabus dan guru mampu menyesuaikan tingkat kesulitan dan variasi input dengan harapan serta karakteristik siswa sehingga motivasi belajar mereka berada pada tingkat maksimal.

Pada tahap perkembangan ini juga berkembang ketujuh kecerdasan dalam Multiple Intelligences yang dikemukakan oleh Gardner (1993), yaitu: (1) kecerdasan linguistik (kemampuan berbahasa yang fungsional), (2) kecerdasan logis-matematis (kemampuan berfikir runtut), (3) kecerdasan musikal (kemampuan menangkap dan menciptakan pola nada dan irama), (4) kecerdasan spasial (kemampuan membentuk imaji mentaltentang realitas), (5) kecerdasan kinestetik-ragawi (kemampuan menghasilkan gerakan motorik yang halus), (6) kecerdasan intra-pribadi (kemampuan untuk mengenal diri sendiri dan mengembangkan rasa jati diri), kecerdasan antarpribadi (kemampuan memahami orang lain). Ketujuh macam kecerdasan ini berkembang pesat dan bila dapat dimanfaatkan oleh guru Teknologi informasi dan komunikasi, akan sangat membantu siswa dalam menguasai kemampuan berteknologi informasi dan komunikasi.

 

2.   Perkembangan Aspek Psikomotor

Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang penting untuk diketahui oleh guru. Perkembangan aspek psikomotor juga melalui beberapa tahap. Tahap-tahap tersebut antara lain:

a.   Tahap kognitif

Tahap ini ditandai dengan adanya gerakan-gerakan yang kaku dan lambat. Ini terjadi karena siswa masih dalam taraf belajar untuk mengendalikan gerakan-gerakannya. Dia harus berpikir sebelum melakukan suatu gerakan. Pada tahap ini siswa sering membuat kesalahan dan kadang-kadang terjadi tingkat frustasi yang tinggi.

b.   Tahap asosiatif

Pada tahap ini, seorang siswa membutuhkan waktu yang lebih pendek untuk memikirkan tentang gerakan-gerakannya. Dia mulai dapat mengasosiasikan gerakan  yang sedang dipelajarinya dengan gerakan yang sudah dikenal. Tahap ini masih dalam tahap pertengahan dalam perkembangan psikomotor. Oleh karena itu, gerakan-gerakan pada tahap ini belum merupakan gerakan-gerakan yang sifatnya otomatis. Pada tahap ini, seorang siswa masih menggunakan pikirannya untuk melakukan suatu gerakan tetapi waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih sedikit dibanding pada waktu dia berada pada tahap kognitif. Dan karena waktu yang diperlukan untuk berpikir lebih pendek, gerakan-gerakannya sudah mulai tidak kaku.

c.   Tahap otonomi

Pada tahap ini, seorang siswa telah mencapai tingkat autonomi yang tinggi. Proses belajarnya sudah hampir lengkap meskipun dia tetap dapat memperbaiki gerakan-gerakan yang dipelajarinya. Tahap ini disebut tahap autonomi karena siswa sudah tidak memerlukan kehadiran instruktur untuk melakukan gerakan-gerakan. Pada tahap ini, gerakan-gerakan telah dilakukan secara spontan dan oleh karenanya gerakan-gerakan yang dilakukan juga tidak mengharuskan pembelajar untuk memikirkan tentang gerakannya.

3.  Perkembangan Aspek Afektif

Keberhasilan proses pengajaran Teknologi informasi dan komunikasi juga ditentukan oleh pemahaman tentang perkembangan aspek afektif siswa. Ranah afektif tersebut mencakup emosi atau perasaan yang dimiliki oleh setiap peserta didik. Bloom (Brown, 2000) memberikan definisi tentang ranah afektif yang terbagi atas lima tataran afektif yang implikasinya dalam siswa SMP lebih kurang sebagai berikut: (1) sadar akan situasi, fenomena, masyarakat, dan objek di sekitar; (2) responsif terhadap stimulus-stimulus yang ada di lingkungan mereka; (3) bisa menilai; (4) sudah mulai bisa mengorganisir nilai-nilai dalam suatu sistem, dan menentukan hubungan di antara nilai-nilai yang ada; (5) sudah mulai memiliki karakteristik dan mengetahui karakteristik tersebut dalam bentuk sistem nilai.

Pemahaman terhadap apa yang dirasakan dan direspon, dan apa yang diyakini dan diapresiasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam teori pemerolehan bahasa kedua atau bahasa asing. Faktor pribadi yang lebih spesifik dalam tingkah laku siswa yang sangat penting dalam penguasaan berbagai materi pembelajaran, yang meliputi:

1.  Selfesteem, yaitu penghargaan yang diberikan seseorang kepada dirinya sendiri.

2.  Inhibition, yaitu sikap mempertahankan diri atau melindungi ego.

3.  Anxiety (kecemasan), yang meliputi rasa frustrasi, khawatir, tegang, dsbnya.

4.  Motivasi, yaitu dorongan untuk melakukan suatu kegiatan.

5.  Risk-taking, yaitu keberanian mengambil risiko.

6.  Empati, yaitu sifat yang berkaitan dengan pelibatan diri individu pada perasaan   orang lain.

 

DAFTAR PUSTAKA

A. Tafsir, dkk, “Pengembangan Wawasan Profesi Guru”,Fakultas Tarbiyah UIN,

Bandung: 2009.

Dick W. & Carey L.. “The systematic design of instruction”, Illinois, 1937.

E. Mulyasa, “Menjadi Guru Profesional”, Rosdakarya, Bandung: 2010

Gary. R, Morrison, Steven M, Ross, Jerrold E Kemp : Designing Effective Instruction, Third    Edition John Wiley and Sons, inc printed in the USA 2001.

Harjanto. (2008). Perencanaan Pengajaran. Jakarta: Rineka Cipta.

H. Afifuddin, Irfan Ahmad, “Perencanaan Pembelajaran”  Fakultas Tarbiyah UIN,

Bandung: 2011.

http://lussysf.multiply.com/journal

Ramayulis, “Filsafat Pendidikan Islam”, Kalam Mulia, Jakarta: 2010.

Rusman, “Model-Model Pembelajaran”, Rajawali Pers, Jakarta: 2011.

Sudrajat Akhmad.. “Tujuan pembelajaran sebagai komponen penting

dalam pembelajaran”, 2009  Diakses dari Let’s talk about education,

tanggal 10  november 2011.

Suparman, Atwi. (1997). Desain Instruksional. Jakarta: Depdikbud

West, Charles K., James A. Farmer., Phillip M. Wolff, Intructional design Allyn And Bacon, University of Illinois at Urbana-Champaign Boston, a991.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s